Menulis Diary

Masih ingat jaman anak 90a kecil, apa yang sering dilakukan kepada teman-temannya sebelum mengenal friendster dan sebagainya? Yup, binder. Kalau sekarang sih pakai binder cuma buat kuliah ataupun sekolah. Kalau dibawah tahun 2010-an, binder ini jadi alat komunikasi verbalnya temen-temen sepergaulan.

Source: we heart it

Kalau boleh flashback, dulu gue memakai binder untuk mengumpulkan biodata temen-temen gue. Jaman itu, uang jajan anak SD yang gue punya sekitaran lima ribu rupiah. Gue sangat selektif dalam membagi pengeluaran sesuai dengan kepentingan. Sebagian uang gue sisihkan untuk beli cemilan, sisanya harus ada yang bisa untuk ditabung. Kalau lagi iseng, biasanya gue berburu isi kertas binder yang unik-unik. Kalau kalian inget nih, ada tipe-tipe kertasnya. Yang paling mahal biasanya tipe harvest. Satunya lembarnya bisa lima ratus rupiah sampai seribu rupiah. Kalau tipe yang biasa, lima ratus bisa dapat tiga lembar. Jaman itu, gue belom mengenal alkitab bernama media sosial yang sangat instant seperti sekarang. Jaman itu memang udah lahir nama-nama seperti Friendster, My Space, Facebook, tapi masih balita. Binder adalah penyelamat pergaulan sosial gue bersama teman-teman. Jaman itu belum ada yang update status “laper” di binder. Alat komunikasi dengan low cost yang ada cuma SMS. Dan itu, bayar per sekali kirim.

Isi binder gue kebanyakan berisi biodata orang-orang dari yang akrab banget sampe yang akrabnya b aja.  Dari yang tulisan paling enak dibaca sampai bisa ngeja satu kata aja udah sukur. Selain buat naro biodata orang, gue juga suka nulis puisi ala ala di prasasti bernama binder. Sayang banget, engga bisa PAP (post a picture) isi binder gue jaman itu. Sepertinya sekarang sudah ada di gudang, berdebu, dan menjadi sejarah. Biarlah suatu hari ditemukan orang lain dan menjadi seru-seruan orang yang ngebacanya. Ngga ada rahasia-rahasiaan kok! Kecuali..

DIARY.

Ada satu buah buku lain yang gue isi untuk menemani hari-hari gue yang sometimes, we don’t need anyone to know. Write about us to just remind us. Exactly the dark side of us. The real personality of us. Diary gue pertama kali gue tulis setelah gue cukup besar. Engga pas lagi jaman-jamannya biodataan kok, justru malah pada saat akun Facebook gue sudah berulang tahun yang kedua hehe.

Menurut gue, diary sangat penting untuk memahami diri sendiri. Salah satu manfaatnya, kalian bisa tahu perkembangan hidup kalian dari catatan kecil yang kalian tulis setiap harinya. Sama seperti status yang kalian update di media sosial, namun isi diary jauh lebih menentukan seperti apa kamu nantinya tanpa orang lain harus menilai. Jangan sepelekan isi kepalamu, kadang ide-ide besar justru datangnya dari hal-hal yang kamu anggap ga penting. Sebagai contoh blog ini, gue pernah nulis kalau someday gue mau jadi penulis di dunia maya biar orang-orang bisa baca dan mengambil manfaatnya. Gue nulis itu di diary gue sekitar beberapa tahun yang lalu. Sekarang, makasih loh udah baca ini, dah jadi kenyataan kan? Lebih bagusnya lagi, gue juga nulis di media online pada saat ini. Walau dulu gue cuma nulis itu di diary, gue jadi sadar, kalau banyak hal yang setiap harinya terjadi ketika ditulis, semuanya jadi bermakna. Meskipun kadang gue sibuk, gue hanya ngungkapin itu dalam note smartphone gw.

Sampai saat ini-pun, menulis dengan cara konvensional (yang semakin banyak ditinggalkan) masih menjadi kesukaan gue. Karena sadar banyak manfaatnya, jadi gue ngelakuin itu terus setiap hari kecuali di hari-hari sibuk.

Bahkan, kadang kala ada hal yang benar-benar mengkondisikan gue harus kecewa dan sebagainya. Gue pernah mencoba nuangin itu semua (dulu) melalui media sosial, tapi apa yang gue dapet? Lebih banyak kekecewaan lagi. Bahkan setiap notifikasi yang gue tunggu, gue hanya need some attention biar status gue ada yang like atau comment. Padahal kenyataannya, salah banget menjadikan problem pribadi menjadi konsumsi publik dan menularkan pengaruh yang negatif ke lingkungan sekitar. Sebagai contoh, masih ada juga influencer yang kurang bijak dalam memilih konten yang tepat buat audience mereka. Mengatakan kata-kata yang tidak pantas, melakukan tindakan yang gak seharusnya dilakukan oleh profesional, kalian bisa menilai sendiri lah ya, gw gaboleh menyebutkan merk.




Dengan menulis diary, semua orang bisa mengurangi dampak-dampak yang merugikan kepada orang lain seperti amarah dan dark side dari kita semua.
Ada yang pernah berkata begini dulu,

“Jadi diri sendiri aja. Engga suka yang munafik, gue yang begini terserah siapa yang mau suka dan tidak”

Iya sih, jadi dirinya sendiri, namun dengan label/reputasi yang buruk? Hm.. semua orang punya pilihan. Hidup ini juga selalu punya antonimnya. Namun melakukan yang sepantasnya demi kebaikan bersama, apakah merugikan akhiratmu kelak? Waduh.. ketinggian ya pembahasannya.


So, buat kalian yang mau menentukan arah kehidupan ini, yuk coba tulis hal-hal kecil yang unik ke dalam diary kalian. Anggap saja hanya untuk penyemangat / angin segar. Menulis bisa menjadi lebih baik kalau didukung juga dari minat baca yang tinggi. Sebab, kosa kata yang kita punya ditentukan dari seberapa banyak buku yang sudah kita baca. Semakin banyak maka akan semakin baik, perbaharui diri setiap waktu. Semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Mana Memulainya?

Apakah kamu tipe orang yang tidak bahagia?