Hindari Pesan Negatif

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “mulutmu adalah harimaumu.” Pesan ini bermakna ke semua jenis kata-kata yang keluar dari mulut manusia. Baik secara terfikirkan atau gak dipikirkan dulu alias asbun (asal bunyi). Banyak orang beranggapan bahwa setiap kata-kata yang keluar dari mulut manusia adalah doa. Apa betul kalau kita bicara “saya  ingin menjadi presiden” akan otomatis kita menjadi presiden? Coba simak pemabahasan gue yang berikut ini.


Anita adalah seorang ketua perhimpunan mahasiswa di kampusnya. Dia merasa kalau anak buahnya tidak punya pengalaman baik di organisasi sehingga apapun yang dikerjakan anak buahnya tidak pernah maksimal. Anita mengeluhkan penilaiannya tersebut melalui forum-forum tertentu dimana ia bisa menyinggung permasalahannya tersebut di depan mereka. Niat baik Anita adalah, ingin menyadarkan teman-temannya kalau pekerjaan yang dilakukan oleh teman-temannya tersebut masih berantakan sehingga diharapkan bisa melakukan perbaikan secara lebih mendalam. Namun yang perlu kita garis bawahi, bagaimana penyampaian Anita kepada teman-temannya supaya mereka termotivasi untuk melakukan perbaikan? Tentu harus dengan jalan menyemangati. Lain halnya seorang Anita yang gue gambarkan karakternya di sini. Anita merasa bahwa dirinya sudah paham betul tentang konsep membuat acara, dia menyeleksi kesalahan-kesalahan orang lain dengan kacamata pengalamannya tanpa mengerti bahwa setiap moment memiliki rentang cerita yang berbeda-beda. Yang pastinya, memiliki permasalahan yang lebih bervariasi juga. Tanpa panjang lebar, Anita dengan karakter ini mempunyai karakter seorang bos. Ciri-cirinya seperti yang diilustasikan melalui uraian diatas. Senang menyalahkan orang lain, mengupas-ngupas kesalahan tanpa memberikan solusi, juga mengkritik orang lain tidak sehebat dirinya. Dengan kata lain, karakter yang dimiliki seorang Anita disini adalah she’s a small minded person.

Biasanya kita menemukan tipe-tipe orang seperti ini di lintas kehidupan mana aja. Entah dipekerjaan, di lingkungan sosial, selalu ada tipe orang yang mempunyai status istimewa tetapi dengan pemikiran ala kadarnya. Atau yang lebih parah lagi, terbiasa untuk menjatuhkan mental lawan bicaranya. Kasus Anita diatas, akan gue tambahkan lagi sedikit. Anita juga suka membicarakan hal-hal dengan konotasi yang negatif. Misalnya dengan mengatakan kalau orang yang kita sedang butuhkan pasti ga akan bisa. Kata “pasti” tersebut mencermikan sikap denial. Kenyataannya, semua hal bisa terjadi. Tindakan-tindakan yang kurang bijak seperti ini pada dasarnya menjatuhkan. Tidak perlu ada pembenaran seperti

“digituin supaya sadar”
“perlu sedikit kekacauan untuk membuat seseorang lebih baik”

Di dunia yang sudah meninggalkan pola-pola kuno semacam ini harusnya orang tersebut lebih sadar kalau cara-cara ini sama sekali tidak efektif, atau hanya akan memperparah keadan. Di samping pola-pola tersebut, ada cara lebih baik yang bisa saja diterapkan. Salah satunya adalah

Always see the bright side even in worst.

Atau

Bangun gedung pencakar langit dari pondasinya.

yang artinya, kalau mau bicara sesuatu, pastikan itu adalah kata-kata yang bertujuan untuk membangun keadaan. Kalimat-kalimat yang dirangkai dengan pola konstruktif, akan membangitkan pemikiran orang lain bahwa “ya, i was wrong. But i’ll do it right later.” bukan justru malahan mendestruktif pikiran orang-orang kalau “aku ini worst banget loh. Yasudahlah kalau begitu aku menyerah saja.”

kembal lagi, seseorang bisa terpola pemikirannya akibat kejadian yang mereka alami sebelumnya (empiris). Dengan pola-pola kalimat destruktif, seseorang bisa mengklaim bahwa tindakan seperti itu benar. Dengan kata lain, membenarkan apa yang seharusnya menjadi koreksi dan pertanyaan dalam diri sendiri, “apakah saya udah bijak dalam melakukan tindakan demikian?” adalah tindakan yang kurang tepat.

Semua orang pada dasarnya ingin melakukan kebaikan. Terkadang caranya saja yang kurang bijaksana dalam memanfaatkan sesuatu. Untuk itu, siapapun kamu, pemimpin manakah kamu, pekerjaan apapun yang sedang kamu kerjakan, pikirkan lagi satu hal ini.

Mulutmu adalah harimaumu.


Jangan sampai hanya dengan satu patah kata, seseorang kehilangan semangatnya untuk berjuang lebih baik lagi. Tolong banyak berfikir sebelum menarik kesimpulan, lebih baik menyimpan amarah sedetik daripada menghancurkan hubungan sosial selamanya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Mana Memulainya?

Menulis Diary

Apakah kamu tipe orang yang tidak bahagia?