Batu yang dapat menghancurkan diri sendiri



Ada kalanya, kita sebagai manusia harus lebih berkaca diri. Sadarkah kita bahwa apa yang kita kerjakan terkadang dapat menyakiti perasaan orang lain? Meskipun tanpa sengaja kita melakukannya. Apakah terkadang kita sampai hati untuk sekedar bersalaman untuk mengucap maaf sekalipun itu bukan kesalahan yang kita perbuat? Rasanya di era penuh kegengsian dan perasaan egois taktakala membuat hubungan kita dengan seseorang menjadi berantakan hanya karena suatu kesalahpahaman biasa. Kita tidak sadar, atau tersadar namun tak ingin peduli bahwa menjadi pembenci adalah suatu hal yang mendatangkan bencana bagi diri sendiri. Diibaratkan kebencian adalah sebuah batu. Kebencian pun ada yang taraf intensitasnya ringan, dan ada pula yang berat. Kemudian jika yang Anda genggam adalah batu yang tidak berarti apa-apa untuk jangka waktu yang cukup lama, apakah batu tersebut tidak hanya akan menyakiti tangan Anda, tetapi bagian lain dari tubuh Anda? Lalu, bagaimana jika Anda lepaskan saja batu tersebut. Seperti yang dimaksudkan, memaafkan. Itu memang sulit dilakukan apabila sebuah batu seperti sudah melelat pada diri kita. Namun apa salahnya jika kita belajar untuk tahu bahwa setiap kita melepaskan, kita akan slalu mendapatkan kenyamanan yang selama ini terenggut oleh si "Batu" tersebut. Untuk itu, buat apa kita berlama-lama menyimpan dendam kepada seseorang, apalagi jika si orang tersebut tidak melakukan hal yang tanpa sengaja ia lakukan. 

Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Baik mama, papa, bahkan orang-orang yang dekat dengan kita pun pasti pernah sesekali melukai perasaan kita. Namun, apakah kita akan terus-terusan demikian untuk suatu hal sepele semacam itu? Mengikutin jejak setan yang tamak dan tinggi hati terhadap sesama? Kita sebagai manusia yang derajatnya lebih tinggi seharusnya tahu mana yang harus kita kerjakan, dan mana yang tidak. Mana yang harus kita pikirkan, dan mana yang harus kita abaikan untuk kesehatan fikiran kita sendiri.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Dari Mana Memulainya?

Menulis Diary

Kicauan dari Kami yang Masih Hidup