Senin, 25 Juli 2016

apalah

Aku terkesima melihat  bidadari khayangan di media sosial. Mereka nampak anggun mengenakan blazer, kaus polos, dilapisi celana robek agar terlihat catchy dan elegan. Riasan wajah mereka ditaburi bedak, lipstick, maskara dan alis supaya terlihat natural look dan menyandang gelar hitz. Cafe yang mereka datangi bukan tempat persinggahan dengan harga lima ribu rupiahan. Mungkin bisa dua ratus ribu rupiah hingga rupiah yang berlapis emas batangan berlapis berlian svarovski. Rambut mereka tak luput dari jedai, ombree, dan catokan harga jutaan. Sulam alis, tato bibir, sedot lemak bukan barang umum yang jengah dilakukan demi pengakuan ala metropolitan. Beranjak malam, dentuman musik-musik retro meredup kalbu merajahi tempat-tempat dimana kepulan asap rokok dan penjagaan ketat dengan rok-rok ketat berseliweran hingga malam reda pagi datang mereka baru pulang dengan nafas terengah-engah nampak cape dengan permainan ala film klasik dari sekian tequila gratis dengan alibi elus-elus gratis nampaknya bukan persoalan bisa jadi artis ataupun punya hati yang apatis.

Tiga ratus ribuan likers menyelinap dibalik layar ponsel model terbaru yang dibeli akibat ngantri-ngantri manis di stasiun bekasi eh maksud saya Senayan City dengan harga yang tinggi mengalahkan gedung-gedung tinggi yang padahal rumah di gang kelinci belom  bisa kebeli.. sungguh ironi, tapi maaf, bukan salah teknologi.
 

Selasa, 12 Juli 2016

Gurauan

 
Malam bagiku adalah aktivitas

Aktivitas dimana aku berkerja untuk kreativitas

Kreativitas dimana aku membentuk mentalitas

Mentalitas bagiku adalah seni memajukan kualitas

Kualitas bagiku merupakan perdamaian antara kebahagiaan dan rutinitas

Rutinitas sering kali membuat kita menjadi pantas

Pantas dalam arti memberikan identitas

Identitas bagi keselarasan kepercayaan yang merupakan komoditas

Komoditas yang menjadikan kantong penuh dengan kepuasan realitas

Realitas tidak dapat tercapai tanpa terpenuhinya stabilitas.


Hidup selalu berupaya untuk memberikan pengalaman dan pembelajaran. Apa yang kita pikir penting adalah penting, apa yang kita abaikan, bukan sesuatu yang harus disesalkan. Apapun yang pernah kita lakukan, baik ataupun buruk, membentuk siapakah kita saat ini. Bersyukurlah dengan pemberian yang baik, dan belajarlah dari pemberian yang kurang menyenagkan. Tidak ada kesempurnaan dalam hidup, meskipun kita sudah melakukan sesuatu yang benar sekalipun.

Senin, 11 Juli 2016

Kicauan dari Kami yang Masih Hidup

 


Membayangkan apabila kota yang sekarang kita tempati suatu hari akan menjadi kota mati yang hilang dari peradaban. Bagaimana rumah-rumah tempat biasa kita melakukan aktivitas menjadi reruntuhan bangunan yang berdebu, jalan-jalan tempat kita menapaki arah ke tempat tujuan kita menjadi lubang-lubang seperti  dijatuhi benda angkasa. Sekolah-sekolah tempat dimana kita pernah menimba ilmu menjadi aksara buku, meja, kursi, bangku yang sudah tidak berbentuk. Rumah sakit rumah sakit dipenuhi oleh lumut dan tanah yang dilalui oleh binatang-binatang kerdil. Tidak ada lagi terdengar suara rakyat berdemokrasi menggunakan sarana umum. Tidak ada lagi kelayakan untuk tempat ini disinggahi atau menjijikan untuk kita pijakkan kembali. Haruskah kita menghentikan semua perbisnisan, polusi  udara, efek rumah kaca, limbah industri dan pembangunan untuk sekedar berkaca dengan masa depan? Bagaimana.. apabila, kota yang pernah menjadi cerita kita bersama teman-teman kita sudah tidak lagi terjamah oleh bangsa manusia? Apakah kita akan mengubur cerita cinta kita bersamanya, kenangan-kenangan pencarian jati diri kita semasa belia? Tidakkah.. apa yang kita lakukan sekarang berpotensi mengubur semua itu di masa depan, dimana sudah tidak ada lagi surga yang menyenangkan dari kicauan burung, pelangi, dan langit biru yang indah. Apakah kedamaian suatu hari akan menjadi mitos bagi umat manusia yang selalu dirundung kegelisahan akan hari hari berikutnya?

Air laut, air rawa, dan air hujan sudah bukan lagi air yang bersahaja bagi kelestarian makhluk hidup. Karbon monoksida, asam sulfat, dan cairan pekat beraroma kimia sudah bukan barang mustahil untuk ditemukan disekitar kehidupan. Berapa jumlah manusia yang hidup pada saat itu? 4 miliyar? 2 juta? Dimana tempat yang aman untuk berlindung dari kemarau panjang yang disebabkan keruntuhan radio aktif dalam tabung-tabung besar yang diciptakan umat manusia. Dimana perang yang selama ini terjadi di perbatasan timur tengah? Apa mereka sudah menyerah dengan alam yang tak bersahaja? Haruskah dunia ini gelap dahulu baru kita berhenti untuk berperang?

Rasa kemanusiaan yang terjual sejatinya hanya milik mereka yang tinggal pada saat itu. Mereka menciptakan roket-roket dan mesin waktu untuk berpindah ke dunia yang lebih baik, tapi tidak bisa menghindari dunia yang baik dari keburukan sebelum semua ini terjadi. Manusia, begitulah sebutannnya, merupakan mamalia paling brengsek diantara semua jenis makhluk hidup yang tersebar di alam liar ini. Dimanapun ada keberadaan mamalia ini, tidak ada tempat yang aman, tidak ada juga tempat yang lebih indah.

Mereka menciptakan nuklir untuk penghematan bahan bakar, juga menjadikannya senjata untuk merusak alam mereka sendiri. Tidakkah ada teguran yang pantas dari dunia ini selain kehancuran? Tapi setiap kelahiran yang terjadi, saat itu pula perbadan baru dibangun. Melalui budaya, bahasa, dan kepercayaan, manusia membentuk tempat tinggal yang nyaman bagi keluarga dan sanak saudara mereka. Di peradaban yang hilang nanti, aku meninggalkan tulisan ini untuk mereka yang akan membaca ini dimasa depan. Menerjamakan tulisan ini sekarang ke dalam bahasa yang mereka mengerti pada saat itu. Untuk menyampaikan belasungkawa atas perlakuan kami pada hari ini, dan pada hari sebelumnya.